Senin, 04 Maret 2013

Panduan Praktis Ilmu Tajwid







Ta’mir Masjid Nur Rohmah
Perumahan Batik Keris (RW.05) – Banaran Baru – Grogol – Sukoharjo 57193
premonoreksoputro@gmail.com – masjidnurrohmah.blogspot.com
Telephone : 0815 7845 5055

Panduan Praktis Ilmu Tajwid

Tajwid secara bahasa berasal dari kata jawwada, yujawwidu, tajwidan, yang artinya membaguskan atau membuat jadi bagus. Tajwid juga diartikan sebagai sesuatu yang mendatangkan kebajikan.
Secara istilah tajwid diartikan sebagai ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf (Hijaa-Iyyah), baik hak-hak huruf (haqqul harf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum madd, tarqiq, tafkhim, dll.

Hukum mempelajari Ilmu Tajwid memang Fardhu Kifayah, tapi membaca Al-Quran dengan Tajwid menurut jumhur ‘ulama hukumnya Fardhu ‘Ain

15. Hukum Madd.
a.Madd yang mesti dibaca 2 harakat: Bila setelah madd, tidak berupa hambyah, tasdid, huruf mati. (ء – ّ  – ْ ).
1)        Madd Thabi’i – Ashli : Hukum madd yang tidak dikenai sebab, seperti hamzah atau sukun. (S1:5), (S1:7); (S2:2).
2)        Madd Badal (pengganti): berkumpulnya huruf madd dengan hamzah (ء).dalam kalimat, tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari huruf madd. (S2:136), (S2:183), (S3:173), (S106:2).
3)        Madd Tamkin (tetap/penetapan): bertemunya dua huruf ya’ (يْ يِّ) dalam satu kata, ya’ yang pertama berharakat kasrah dan bertasydid, sedang ya’ yang kedua berharakat sukun (mati). (S4:86), (S83:18), (S2:177), (S3:79), (S5:111).
4)        Madd ‘Iwadl : dua fathah dibaca satu jika dihentikan (diwaqaf). (S33:1) dst.
5)        Madd Lazim Harfi Mukhoffaf : apabila huruf – huruf  (Fawatihus Suwar) nya terdiri dari 2 ejaan hurufnya. Ada 5 huruf: (ر – ه – ط – ي – ح).
à(S41:1), (S36:1), (S20:1), (S19:1), (S13:1)
6)        Madd Shilah Qoshiroh (hubungan – pendek): apabila sebelum ha’ (dlamir) ada huruf yang berharakat dan disyaratkan tidak disambungkan dengan huruf berikutnya, dan tidak pula bertemu dengan hamzah yang berharakat.
à(S100:6), (S86:8), (S86:13), (S101:9), (S96:17–18).

Ada 3 syarat:
a)      Sebelum ha’ dlamir harus ada huruf yang berharakat.(bukan huruf yang bersukun).
(فَكَذَّبُوْهُ) (اِلَيْهِ) (عَنْهُ) (مِنْهُ) (فِيْهِ) (بَنِيْهِ)
b)      Ha’ dlamir tidak disambungkan atau tidak dibaca bersambung dengan kalimat berikutnya atau tidak di-idghaam-kan.
(الْاَعْلٰى رَبِّهِ)(الْمُلْكُ لَهُ) (الْحَقُّ اَنَّهُ)
c)      Ha’ dlamir tidak bertemu dengan huruf hamzah.

(اَزْوَاجًا لَه)(اَخْلَدَهُ مَلَه)(اِلَّا لَه وَمَا)

b. Madd yang mesti dibaca 4 – 5 harakat: Bila setelah madd, berupa hambyah dan di atasnya ada tanda bendera. (ء – ٓ).

1)   Madd Shilah Thawilah : Secara bahasa thawilah artinya panjang. Menurut istilah apabila setelah ha’ (dlamir- baik dlammah maupun kasah) terdapat hamzah qath’i. àdipanjangkan 5 harakat (2 ½ Alif). (S2:255), (S7:3), (S15:88), (S24:17), (S89:26).

2)   Madd Wajib Muttashil : Secara bahasa madd artinya panjang. Wajib artinya harus (dipanjangkan). Muttashil artinya bersambung (dengan hamzah). Menurut istilah madd wajib Muttashil adalah apabila Madd (Ashli) dan hamzah (bertemu dalam satu kata). àwajib dipanjangkan 5 harakat (2 ½ Alif). (S2:5), (S3:134), (S4:43).

3)   Madd Jaa-iz Munfashil : Secara bahasa madd artinya panjang. Jaa-iz artinya boleh (boleh dipanjangkan lebih dari 2 harakat). Munfashil artinya terpisah (antara huruf madd dengan hamzah). Menurut istilah Madd Jaa-iz Munfashil adalah apabila huruf Madd (Ashli) pada satu kata bertemu dengan hamzah di kata yang lainnya. àboleh dipanjangkan 2 harakat = 1 Alif (Hadr), 4 harakat = 2 Alif (Tadwir), 5 harakat = 2 ½ Alif (Tartil)~ (S95:4), (S97:1), (S109:2).

4)   Madd ‘Aaridl lis Sukuun : Secara bahasa madd artinya panjang. ‘aaridl artinya baru/tiba-tiba ada. Sukuun artinya bersukun/mati. Menurut istilah Madd ‘Aaridl lis Sukun adalah Pemberhentian(waqaf) bacaan pada akhir kata/kalimat, sedangkan huruf sebelum huruf yang diwaqafkan itu merupakan salah satu dari huruf-huruf Madd Thabi’i , (alif, wau, ya’). Cara membaca : 6 harakat = 3 Alif (Thuul), 4 harakat = 2 Alif (Tawassuth), 2 harakat = 1 Alif (Qashr) ~ (S2:196), (S2:104), (S27:81).

5)   Madd Lin : Secara bahasa madd artinya panjang. Lin artinya lunak. Menurut istilah Lin adalah Wau dan Ya’ berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat fathah. Cara membaca : seperti madd ‘aaridl lis sukun yaitu 2, 4, 6 harakat. Tidak boleh dikeraskan dengan menekan suara pada kedua huruf Lin, yaitu wau dan ya’. Sesuai maknanya, lin harus diucapkan dengan lunak dan lembut. (S2:187), (S3:26), (S6:159), (S106:4).

Huruf Lin : terjadi apabila huruf wau dan ya’ dalam keadaan bersukun dengan huruf sebelumnya berharakat fat-hah dibaca washal atau tidak di-waqaf-kan.
a)   Huruf Lin yang mesti di-washal-kan selamanya : (S3:167), (S4:17), (S4:95), (S14:28), (S37:49), (90:18).
b)   Lin yang bisa di-waqaf-kan tetapi dibaca washal : (S2:2), (S106:1), (S106:3).

c. Madd yang mesti dibaca 6 harakat: Bila setelah madd, huruf bertasdid atau huruf mati / bersukun dan di atasnya ada bendera.

1)   Madd Farq : Secara bahasa pembeda (membedakan). Menurut istilah bacaan panjang yang berfungsi untuk membedakan kalimat istifhaam (pertanyaan) dan khabar (keterangan). Karena jika tidak dibedakan dengan madd, kalimat istifhaam akan disangka kalimat khabar, padahal hamzah tersebut adalah hamzah istifhaam. Tatkala kita melafalkan hamzah istifhaam kemudian ditasdidkan pada huruf idghaam Syamsyiyah di kalimat berikutnya àdi dalam Al Qur’an hanya terdapat di 4 tempat  (S6:143), (S6:144), (S10:59), (S27:59).

2)   Madd Laazim Kalimi Mukhaffaf : Secara bahasa madd artinya panjang. Laazim artinya pasti (harus dibaca panjang). Kalimi artinya kalimat (yakni terjadinya pada kalimat). Mukhaffaf artinya ringan, karena tidak terjadi idgham. Menurut istilah apabila setelah huruf madd terdapat huruf yang bersukun dan tidak ada idgham. à hanya ada di 2 tempat (S10:51), (S10:91).

3)   Madd Laazim Kalimi Mutsaqqal : Secara bahasa madd artinya panjang. Laazim artinya pasti (harus dibaca panjang). Kalimi artinya kalimat (yakni terjadinya pada kalimat). Mutsaqqal artinya berat, karena terjadi Idgham. Menurut istilah adanya huruf bertasydid setelah Madd Ashli. Kemudian huruf yang bertasydid itupun harus berada dalam satu kata dengan huruf Madd (Ashli). àboleh dipanjangkan ~ (S1:7), (S24:45), (S34:28), (S69:1), (S79:34).

4)   Madd Laazim Harfi Musyba’ Mukhaffaf : Secara bahasa madd artinya panjang. Laazim artinya pasti (harus dibaca panjang). Harfi artinya huruf (yakni terjadinya pada huruf). Musyba’ artinya penuh. Mukhaffaf artinya ringan, karena tidak terjadi idgham. Apabila (huruf setelah madd dalam ejaan huruf fawaatihus suwar) tidak di-idgham-kan. à (S19:1), (S42:1), (S41:1), (S38:1), (S36:1).

5)   Madd Laazim Harfi Musyba’ Mutsaqqal : Secara bahasa madd artinya panjang. Laazim artinya pasti (harus dibaca panjang). Harfi artinya huruf (yakni terjadinya pada huruf). Musyba’ artinya penuh. Mutsaqqal artinya berat, karena terjadi Idgham. Apabila (huruf setelah madd dalam ejaan huruf fawaatihus suwar) di-idgham-kan. à (S13:1), (S2:1), (S3:1), (S26:1), (S7:1).

Cara membaca hamzah washal di awal kalimat.

1.        Dibaca dengan harakat “a” (fathah) : apabila diikuti huruf “Lam”. à
(S Al Fatihah (1) : 2) ~ الْعٰلَمِيْنَ رَبِّ لِلهِ الحَمْدُ.
2.        Dibaca dengan harakat “u” (dhomah) : apabila tidak diikuti huruf “Lam” dan harakat pertama setelah hamzah washal adalah dhomah. à رَبِّك سَبِيْلِ اِلىٰ ادْعُوْا
3.        Dibaca dengan harakat “i” (kasrah) : apabila tidak ada unsur pertama dan kedua serta harakat pertama setelah hamzah washal adalah kasrah. à
(S Al Fatihah (1) : 6) ~  الْمُسْتَقِيْمَ الصِّرَاطَ نَا اهْدِ
(S Al Fajr (89) : 29)   ~  مَّرْضِيَّةً رَاضِيَةً رَبِّكِ اِلٰى ارْجِعِيْ
                    ~ نَهُمْ اَيْمَا وْا اتَّخَذُ

Kecuali à (S Al Ahqaf (46) : 4) ~ نِيْ ئْتُوْا

6. Hukum Nun Bersukun dan Tanwin.

Pengertian :
Nun bersukun adalah huruf nun yang bertanda sukun (نْ). Dikenal pula dengan sebutan “nun mati”, maksudnya huruf nun yang dalam keadaan mati atau bersukun. à (S5:3), (S15:82), (S18:50), (S3:199), (S17:83), (S26:63), (S65:4), (S72:27).
Tanwin merupakan tanda harakat rangkap dari fat-hah, kasrah, dan dlammah. à كِتَابً –  كِتَابٍ – كِتَابٌ

Beda pokok antara Nun bersukun dan tanwin adalah Nun bersukun tetap nyata dalam penulisan maupun pengucapan, baik ketika washal maupun waqaf. Sedangkan tanwin tetap nyata (terdengar) dalam pengucapan dan ketika washal, tidak dalam penulisan maupun waqaf.

Ada 4 hukum yang muncul tatkala nun bersukun atau tanwin bertemu dengan huruf hijaa-iyyah.
a.    Izh-haar Halqi : menurut bahasa izhaar adalah al-bayan artinya jelas. Sedangkan halqi artinya tenggorokan. Menurut istilah mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya tanpa memakai sengau / dengung pada huruf yang di izh-har-kan. Apabila nun bersukun atau tanwin menghadapi salah satu dari huruf (halq) yang enam maka dinamakan Izh-haar Halqi. (ه غ ع خ ح ء)
à(S2:62), (S2:181), (S2:225), (S6:26), (S7:43), (S13:7), (S14:26), (S17:44), (S22:21), (S96:2), (S113:5).

b.    Idhgham : menurut bahasa memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu. Menurut istilah bertemunya huruf yang bersukun dengan huruf yang berharakat sehingga kedua huruf tersebut menjadi satu huruf dan huruf yang kedua menjadi bertasydid. Selanjutnya lisan mengucapkan dua huruf tersebut dengan sekali ucapan. Apabila nun bersukun atau tanwin menghadapi salah satu dari huruf yang enam, maka dinamakan Idgham.                               (ن و ل  م ر  ي)
1). Idhgham bi Ghunnah : secara bahasa idgham artinya memasukkan, bi ghunnah  dengan sengau/dengung. Apabila nun bersukun atau tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf (Idgham) yang empat, maka dinamakan Idgham bi Ghunnah.(ن و م ي).
à(S2:107), (S2:114), (S2:230), (S3:45), (S4:123), (S7:131), (S9:13), (S16:53).

Pengecualian :
Idgham bi Ghunnah hanya terjadi pada pada nun bersukun atau tanwin yang berbeda kata dengan huruf-huruf Idgham bi Ghunnah yang dihadapinya. Kalau dalam satu kata dinamakan Izh-har Muthlaq. Alasannya takut tertukar dengan kalimat Mudla’af (penggandaan huruf).
à(S2:85), (S6:99), (S13:4), (S61:4).

Idhgham bi La Ghunnah : secara bahasa idgham artinya memasukkan, bi la ghunnah  tidak dengan sengau/dengung. Apabila nun bersukun atau tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf (Idgham) yang dua, maka dinamakan Idgham bi La Ghunnah.(ر ل)
à(S2:173), (S3:8), (S3:133), (S93:4).

c.    Iqlab : menurut bahasa memindahkan sesuatu dari bentuk asalnya (kepada bentuk lain). Menurut istilah menjadikan suatu huruf kepada makhraj huruf lain seraya tetap menjaga ghunnah / sengau pada huruf yang ditukar. Apabila nun bersukun atau tanwin bertemu dengan huruf (ب) , maka keduanya ditukar kepada (م), tetapi hanya dalam bentuk suara, tidak dalam tulisan.
à(S2:77), (S19:92), (S30:36).

d.    Ikhfa’ : menurut bahasa as-satru artinya samar atau tertutup. Menurut istilah mengucapkan huruf dengan sifat antara Izh-har dan Idgham tanpa tasydid dan dengan menjaga ghunnah pada huruf yang di-ikhfa’-kan. Apabila nun bersukun atau tanwin menghadapi salah satu dari huruf-huruf Ikhfa’ yang berjumlah lima belas, maka dinamakan ikhfa’ Haqiqi. (ص ذ ث ك ج ش ق س د ط ز ف ت ض ظ).
1). Ikhfa’ Ab’ad : Ab’ad artinya paling jauh. Berasal dari kata بَعُدَ . Terjadi apabila nun bersukun atau tanwin menghadapi salah satu dari dua huruf Ikhfa’ , ق ك
Paduan nun bersukun atau tanwin ketika menghadapi huruf qaf dan kaf akan menghasilkan bunyi “ng”
à(S2:4), (S2:232), (S17:9), (S94:3).
2). Ikhfa’ Aqrab : Aqrab artinya paling dekat. Berasal dari kata قَرُبَ . Terjadi apabila nun bersukun atau tanwin menghadapi salah satu dari tiga huruf Ikhfa’ , د ط ت
Suara yang dihasilkan dari Ikhfa’ Aqrab mendekati bunyi “n”
à(S2:22), (S7:49), (S22:72), (S53:3), (S76:26), (S78:34).
3). Ikhfa’ Ausath : Ausath artinya pertengahan. Berasal dari kata وَسَطَ . Terjadi apabila nun bersukun atau tanwin menghadapi salah satu dari sepuluh huruf Ikhfa’ ,
ف ظ ض ص ش س ز ذ ج ث
Suara yang dihasilkan dari Ikhfa’ Ausath mendekati bunyi “ny” yang lebih dekat ke suara sengau dari pangkal hidung.
à(S2:44), (S6:160), (S7:54), (S10:19), (S11:82), (S13:5), (S14:5), (S18:110), (S20:124), (S25:23), (S86:13), (S94:7), (S98:1), (S113:2).

e. Nun Shagir lil Washl.

Tanwin menghadapi salah satu dari dua hal berikut ini :
1.    Alif-lam washl.
2.    Huruf yang bersukun.

Nun shagir lil washl artinya nun kecil untuk washl. Tanda nun kecil pada mushaf al qur’an yang ditulis di antara dua lafazh yang dibaca washl. Nun kecil tersebut sebenarnya hanyalah tambahan guna memudahkan para qari dalam menghubungkan dua lafazh yang di-washal-kan.

Nun Shagir lil Washl tatkala tanwin menghadapi alif-lam washal.
à (S2:180), (S18:88), (S35:34-35), (S36:79-80), (S53:50), (S112:1-2).

Cara membacanya dengan memindahkan suara nun bersukun pada tanwin menjadi bunyi nun yang berharakat kasrah ketika bacaan di-washal-kan. Sementara itu huruf yang bertanwin tadi menjadi hilang tanwinnya dan berganti dengan harakat biasa (tanpa tanin). Yang dlamah tanwin mnjadi dlammah saja, dan yang fathah tanwinmnjadi fathah saja (tanpa madd).

Nun Shagir lil Washl ketika tanwin menghadapi huruf yang bersukun.
à (S12:8-9), (S14:26), (S35:42-43), (S62:11).


7. Hukum Mim Bersukun.
Hukum Mim bersukun adalah tiga hukum yang muncul tatkala mim bersukun (مْ) menghadapi huruf huruf hija-iyyah.
a.    Ikhfa’ Syafawi – Ikhfa’ berarti samar. Syafawi berarti bibir. Terjadi jika : pertama apabila huruf ba’ (ب) berada setelah mim yang bersukun (مْ). Terjadi diantara dua kata. Ketiga terjadinya proses ghunnah.
Cara membacanya dengan suara yang samar antara mim dan ba’ pada bibir, kemudian ditahan kira-kira dua ketukan seraya mengeluarkan suara ikhfa’ dari pangkal hidung, bukan dari mulut.
à (S2:8), (S5:42), (S105:4).

b.    Idgham Mimi – disebut juga Idgham Mutamatsilain. Dinamakan Idgham Mimi karena dalam proses Idgham-nya huruf mim dimasukkan kepada huruf mim pula. Pengertian Idgham Mimi ialah memasukkan mim pertama ke mim kedua, sehingga kedua mim tersebut menjadi satu mim yang bertasydid, dengan tasydid yang agak lemah untuk mewujudkan ghunnah.
Cara membacanya dengan memasukkan suara mim yang bersukun kepada mim berharakat yang ada di hadapannya. Suara di-ghunnah-kan seccara sempurnna tiga harakat dengan suara ghunnah yang keluar dari pangkal hidung.
à (S2:92), (S18:32), (S106:8).

c.     Izh-har Syafawi – Izh-har artinya jelas atau terang. Syafawi artinya bibir. Apabila mim  bersukun (مْ) bertemu dengan huruf hija-iyyah selaij ba’ dan mim.
Cara membacanya dengan suara yang jelas dan terang, yakni pada saat mengucapkan huruf mim dengan cara merapatkan bibir. Kejelasan pengucapannya cukup satu ketukan, tidak boleh lebih. Karena jika lebih, dikhawatirkan akan berubah menjadi Ikhfa’ atau Ghunnah.
à (S1:7), (S2:3), (S2:62), (S2:177), (S3:7), (S4:9), (S4:25), (S6:130), (S23:17), (S25:17), (S32:11), (S56:87), (S72:7), (S79:27), (S83:33), (S86:17), (S86:20), (S94:1), (S98:6), (S98:7), (S98:8), (S105:1), (S106:2), (S109:6).

Hendaklah berhati-hati ketika (mim bersukun) mnghadapi wau dan fa’, janganlah sampai di-Ikhfa’-kan karena adanya kedekatan dan kesatuan (makhraj). Maka ketahuilah.
à (S1:7), (S2:114), (S2:178), (S2:257), (S67:11), (S67:23).


8. Hukum Idgham.
Hukum Idgham adalah tiga hukum yang muncul tatkala yang sama, sejenis, atau berdekatan makhraj atau sifat-sifatnya saling bersamaan.

Pengertian Idgham. Menurut bahasa memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu. Menurut istilah mengucapkan dua huruf mejadi satu huruf, sedangkan huruf yang kedua menjadi bertasydid.
Menurut sumber lain meleburkan dua huruf yang sama, berdekatan, atau sejenis yang salah satunya dimasukkan kepada huruf yang lain, sehingga menjadi satu huruf yang bertasydid dan menjadi satu pula dalam pengucapan.

a.    Idgham Mutamatsilain – artinya dua hal yang sama. Bertemunya dua huruf yang sama , baik makhraj maupun sifatnya.
Cara membacanya dengan memasukkan huruf yang pertama kepada huruf yang kedua sehingga menjadi satu huruf dalam pengucapan, bukan dalam penulisan. Cara memasuk kan huruf dilakukan dengan mentasydidkan huruf yang kedua. Bila proses idgham terjadi pada huruf qalqalah, maka suara qalqalahnya menjadi tidak tampak.
à (S2:60), (S5:61), (S21:87), (S2:88).


Pengecualian :
Idgham Mutamatsilain tidak berlaku ketika huruf wau bertemu dengan wau, dan huruf ya’ hanya terjadi pada pada nun bersukun atau tanwin yang berbeda kata denga ya’.
à(S3:200), (S90:14.

b.    Idgham Mutajanisain – artinya dua hal yang sejenis. Bertemunya dua huruf yang sama  makhrajnya, tetapi berbeda sifatnya.
1)   م ب à berasal dari makhraj asy-Syafatain (dua bibir).
2)   د ط ت à berasal dari makhraj al-Lisan, tepatnya pada ujung lidah yang bertemu dengan ushulits tsanayal ‘ulya (pangkal gigi seri atas).
3)   ث ظ ذ berasal dari makhraj al-Lisan, tepatnya pada ujung lidah yang bertemu dengan athrafits tsanayal ‘ulya (ujung gigi seri atas).

Cara membacanya dengan memasukkan suara huruf yang pertama kepada huruf yang kedua sehingga menjadi satu huruf dalam pengucapan, bukan dalam penulisan. Cara memasuk kan huruf dilakukan dengan mentasydidkan huruf yang kedua, sehingga huruf yang pertama diabaikan pengucapannya. Bila proses idgham terjadi pada huruf qalqalah atau hams, maka kedua sifat tersebut tidak akan tampak, karena telah dileburkan makhraj dan sifatnya kepada huruf yang kedua.
à (S4:64), (S5:28), (S7:176), (S10:89), (S11:42), (S17:8), (S33:13).


c.    Idgham Mutaqaribain – artinya dua hal yang berdekatan. Bertemunya dua huruf yang berdekatan  makhrajnya, tetapi berbeda sifatnya.

Cara membacanya dengan memasukkan suara huruf yang pertama kepada huruf yang kedua sehingga menjadi satu huruf dalam pengucapan, bukan dalam penulisan. Cara memasukkan huruf dilakukan dengan mentasydidkan huruf yang kedua, sehingga huruf yang pertama diabaikan pengucapannya. Bila proses idgham terjadi pada huruf qalqalah atau hams, maka kedua sifat tersebut tidak akan tampak, karena telah dileburkan makhraj dan sifatnya kepada huruf yang kedua.
à (S2:92), (S9:128), (S23:93), (S58:1), (S77:20), (S91:11).

Perbedaan dan Pembagian masing-masing Idgham.

Hukum Idgham
Makhraj Huruf
Sifat Huruf
Hukum Membacanya
Mutamatsilain
Sama
Sama
Wajib
Mutamajisain
Sama
Berbeda
Jaiz
Mutaqaribain
Berbeda
Berbeda
Jaiz

1.    Idgham Shaghir – Apabila huruf yang pertama bersukun, sedangkan huruf yang kedua dalam keadaan berharakat. Terjadi sedikit proses (qillatul ‘amal) ketika terjadi peng-idgham-an.
a.    Qalb, proses menukar suara huruf pertama (yang bersukun) kepada huruf kedua (yang berharakat).
b.    Idkhal, proses memasukkan huruf pertama kepada yang kedua, baik dari segi makhraj maupun sifat.

2.    Idgham Kabir – Apabila kedua huruf yang di-idgham-kan dalam dalam keadaan berharakat. Terjadi banyak proses (katsratul ‘amal) ketika terjadi peng-idgham-an.
a.    Iskan, proses penyukunan huruf hidup yang akan di-idgham-kan.
b.    Qalb, proses menukar suara huruf pertama kepada huruf kedua.
c.    Idkhal, proses memasukkan huruf pertama kepada yang kedua, baik dari segi makhraj maupun sifat.

Idgham Mutamatsilain Shaghir. à (S5:61), (S21:87).

Idgham Mutamatsilain Kabir.à (S2:37), (S2:200), (S2:255).

Idgham Mutajanisain Shaghir.à (S4:64), (S11:42).

Idgham Mutajanisain Kabir.à (S2:284), (S3:14), (S4:156), (S16:91).

Idgham Mutaqaribain Shaghir.à (S23:93), (S77:20).

Idgham Mutaqaribain Kabir.à (S3:117), (S15:65), (S40:34).


9. Hukum Mim dan Nun Bertasydid.
Hukum Mim dan Nun bertsydid  adalah “Ghunnah Musyaddadah”.
Menurut Bahasa artinya sengau (dengung). Musyaddadah artinya bertasydid atau memakai tasydid.
Menurut pengeritan, suara yang jelas (dan nyaring) yang keluar dari al-Khaisyum (pangkal hidung) dengan tidak menggunakan lidah pada waktu mengucapkannya.
Cara  membacanya dengan menghentakkan suara mim atau nun yang bertasydid, lalu dibaca sengau atau didengungkan secara nyata ke pangkal hidung, selama dua sampai tiga harakat / ketukan.
à (S2:17), (S21:92), (S95:5), (S3:8), (S17:91), (S86:19).


10. Hukum Lam Ta’rif.
Lam Ta’rif (ال) adalah lam yang masuk pada isim (kata benda) dan di dahului oleh hamzah washal.
1.    Alif-Lam Qamariyyah – disebut juga Izh-har qamariyyah , terjadi apabila alif-lam bertemu dengan salah satu huruf qamariyyah.  Qamariyyah diambil dari kata qamar (bulan). Harus dibaca dengan jelas dan terang, laksana memandang bulan. Disebut izh-har qamariyyah  karena alif-lam menghadapi huruf-huruf qamariyyah, harus dibaca izh-har atau jelas. Dalam penulisannya, memakai tanda sukun pada huruf lam sebagai tanda bahwa huruf tersebut harus dibaca jelas dan terang.
Berjumlah 14. (ه م ي ق ع ف خ و ك ج ح غ ب ء)

à (S108:3), (S98:6), (S10:107), (S6:57), (S7:74), (S2:108), (S5:35), (S3:26), (S3:4), (S1:2), (S101:1), (S6:152), (S59:23), (S2:120).

2.    Alif-Lam Syamsiyyah – disebut juga Idgham syamsiyyah , terjadi apabila alif-lam bertemu dengan salah satu huruf syamsiyyah.  Syamsiyyah diambil dari kata syamsun (matahari). Harus dibaca dengan samar, laksana memandang matahari. Disebut idgham syamsiyyah  karena suara alif-lam di-idgham-kan (dimasukkan) ke dalam huruf syamsiyyah yang ada di hadapannya. Akibatnya suara alif-lam menjadi hilang karena ditukar dengan huruf syamsiyyah. Dalam penulisannya, memakai tanda tasydid pada huruf syamsiyyah yang berada di depan alif-lam. Sebagai tanda bahwa bunyi alif-lam hilang karena di-idgham-kan kepada huruf tersebut.

Berjumlah 14. (ل ش ز ظ س د ن ذ ض ت ر ص ث ط)
à (S86:1), (S4:11), (S59:8), (S55:1), (S102:1), (S93:1), (S15:6), (S78:2), (S45:24), (S4:94), (S13:16), (S2:43), (S2:36), (S2:164).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar